Rabu, 07 Mei 2014

Cerpen Fisika


“RAHASIA DONI”
(Karya : Sariaman Siringo Ringo)

“Aduhhhhh,,,”keluh doni karena kepalanya terkena bola. Hampir setiap kali ia melawati jalan itu ia terkena bola. “Doni,, tolong lemparkan bolanya ke sini,” teriak salah satu anak yang sedang main bola. Doni tidak langsung merespon teriakan anak itu, dia justru menatapi bola itu hingga matanya seakan mau keluar. “Setiap hari bola ini selalu mengenaiku, sebenarnya apa salahku pada bola ini,,” gerutu doni dalam hatinya.
Apa jangan-jangan aku punya gaya tarik menarik yang kuat dengan bola ini ? dan jangan jangan aku ini …..

“Oy don,, kenapa kamu ?? sudah tuli ya ? “ teriak anak lainnya yang main bola.
“ Ayo cepat tendang bolanya ke sini.”
“Ya bentar”. Tapi lagi-lagi doni diam
“kali ini aku harus bisa menendang bola ini tepat ke mereka,,aku gak mau lagi dibully gara-gara kejadian seperti itu lagi” pikir doni. Sekejap khayalan doni dimulai, dia mulai mengkhayal bagaimana dia bisa menendang bola tepat ke pada mereka.
“Jika kacamata ini tidak salah, bisa diperkirakan jarak antara mereka ke saya sekitar 10 m, dan jika aku tidak salah massa bola ini sekitar 300 gram atau 0,3 kg, sambil mengambil bola. Jadi berapa gaya yang ku perlukan untuk menendang bola ini ?? Ya benar,, lalu khayalan doni selesai, kini ia siap untuk menendang bola ke mereka. Ia mulai dengan meletakkan bola itu 1 m di depan kakinya, lalu ia siap dengan mengambil kuda-kuda untuk menendang bola tersebut.
“baiklahhh,, aku akan menendangnya,,”teriak doni dengan keyakinan penuh.
“tumben sekali dia bersemangat” ujar salah satu anak yang bermain bola tadi.
syuutt… doni telah menendang bolanya. “Akhirnya aku berhasil melakukannya, lega rasanya “ ucap doni saat menutup matanya dengan rasa optimisnya. Syuuttt,, plak plak.. “aduhhhh sakitt “ keluh doni lagi.
Ternyata anak-anak itu melempari sepatu mereka  ke arah Doni. Ternyata lagi dan lagi tendangan doni meleset dari perkiraannya, bola yang ditendangnya justru jauh meninggalkan mereka. Alhasil doni pulang ke rumah seperti biasanya yaitu benjol di kepala. Doni memang dari dulu tidak bisa bermain sepak bola sehingga setiap kali ia diajak bermain bola atau melihat orang bermain bola ia selalu menghindar.
Besoknya di sekolah ia belajar fisika, pelajaran yang paling ia sukai tapi walau dia suka dengan fisika tapi tetap saja nilai fisikanya rendah, 60, 61, 62 dan yang paling tinggi 65. Tapi itu sudah tinggi jika dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Doni memang rada aneh jika dibandingkan dengan yang lainnya. Kadang-kadang ia melamun sendirian di kelas saat teman-teman pergi ke kantin. Bahkan ia pernah tiba-tiba tertawa saat belajar fisika dimana teman-teman sedang serius dan pusing dengan rumus-rumus.
Hari ini doni belajar fisika tentang gerak Momentum dan Impuls. Dia sudah sibuk dengan buku tebalnya yang tak seorangpun tahu apa isinya. Seperti biasa, lagi dan lagi dia bertingkah aneh saat pelajaran fisika dimulai, saat semua kelihatan pusing dia justru senyum senyum memandangi buku buku yang seram itu. Ntahlah ia seperti orang gila.
Saya pak… teriak doni sambil menunjuk pena kecilnya ke atas, hingga membuat satu kelas terkejut, bukan hanya karna ia mau maju tapi juga karna semangatnya yang aneh itu.
Baiklah, doni silahkan maju..
Dengan optimis dia maju menyelesaikan soal fisika itu, tapi seperti biasa, jawabannya yang aneh membuat semua orang bingung, sudah panjang, tulisannya tak menentu lagi.
“selesai,, sudah pak “ ujar doni dengan semangatnya. Sebentar ruangan kelas itu seakan bisu sekejap. Oke silahkan duduk doni.. menurut kalian apakah jawaban doni benar ? Tanya Pak Yusuf
SALAHHHH “saut serempak semua siswa-siswa lain, seakan jawaban doni sudah pasti salah. Lagi dan lagi semangat doni tidak di ikuti hasil yang baik.. Sebenarnya apa yang salah dengan dia ? Padahal soal di depan ternyata jawabannya singkat dan jauh berbanding terbalik dengan jawabannya yang panjang tak tahu apa yang ia maksud.. itulah doni. Akhirnya jam sekolah telah habis dan semua siswa pulang, terlihat doni masih bergerutu dengan buku buku tebalnya itu.
“Apa yang salah ? apa jawaban mereka benar ? dari mana mereka bilang jawaban ku salah dan jawaban mereka benar ?” teriak doni, seakan ia tak peduli siapa yang akan mendengarnya.
“ Kenapa aku begini, aku normal seperti mereka, aku ingin bersama mereka, aku ingin satu jalan dengan mereka, jadi aku gak harus pulang sendiri dan terus disiksa begini,aku mau seperti mereka“ lirihnya.
Doni cepat-cepat bangkit, ia memasukkan semua bukunya, tapi anehnya buku itu tidak dimasukkannya ke dalam tasnya. Lalu ia lari keluar kelas, menuju suatu tempat,, lalu sesampai di tempat itu,, ia melempar buku tebalnya dan lalu ia pulang.
Sepulannya di jalan di tempat yang sama.
“Aduhhh,,” rintih Doni kesakitan karna kepalanya terkena bola. “Kenapa,, kenapa aku selalu kena bola ini, apakah aku punya gaya gravitasi yang besar sehingga bola ini harus jatuh tepat dikepalaku “gerutunya
“Hahaha,,,” siswa siswa yang bermain bola justru tertawa mendengar gerutuan doni. Lalu doni mulai berjlan lagi,tapi..
“Heyyy,, tolong lemparkan bolanya” teriak salah seorang anak
“Aku lagi buru buru “ ujar doni
“Jangan banyak alasan, ayoo lempar bolanya”
“Andai saja aku seperti mereka, pasti aku tidak seperti ini, berada dengan mereka“ pikir Doni. Lalu ia mengambil bola itu dan lari mendekati mereka, anehnya ini kali pertama dia memberikan bola dengan cara seperti ini, tidak seperti biasanya dia selalu menendang bola itu walau tak ada satupun yang berhasil.
Sesampai di rumah doni hanya mengurung diri di dalam kamarnya. Mamanya yang melihatnya seperti itu menjadi bingung.
“Don, kamu kenapa ? kamu gak makan dulu don ??“ Tanya mama Doni sambil mendekatkan telinga ke pintu kamar Doni, tapi yang terdengar hanyalah detak jarum jam yang ada di dalam kamar doni.
Esoknya, doni tidak pergi ke sekolah
“Don, kamu sakit ya ? kamu kenapa gak sekolah ?“ Tanya ibu doni di balik pintu kamar doni
Nak ?? lalu sekejap suara ibu doni tak lagi terdengar.
Di sekolah, siswa siswi lagi mengadakan kebersihan sekiar sekolah, semua siswa siswi diberi tugas membersihkan dan membuang sampah ke tempatnya.
Saat beberapa siswi sedang membuang sampah, ada siswi yang menemukan sesuatu
“Apa ini ?“ kejut salah satu siswi
“Coba lihat sini,, ini kan buku yang selalu dibawa doni, kenapa bisa di sini ?” ujar siswi lainnya
“Coba buka, isinya apa“ sambung siswi lainnya
“Jangan, inikan milik doni, mana tahu ini bersifat pribadi bagi dia”
“Tapi kalau buku ini penting, kenapa dibuang sama doni ? iya gak? Sudah biar aku aja yang buka” lalu mereka membuka buku yang sering di bawa doni itu. Tiba tiba mereka terkejut dengan isi buku itu.
“Apa ini ?? “ Tanya salah satu siswi lainnya
“Ayo kita tunjukkan ke Pak Yusuf “ ajak siswi lainnya
Mereka cepat cepat menemui pak Yusuf, guru fisika mereka.
“Pak ..pakk “ panggil salah siswi dengan terburu buru
“Ada apa nak ? “ Tanya Pak Yusuf
“Ini pak “ jawab siswi itu sambil memberikan buku milik doni ke Pak Yusuf
“Buku apa ini ? “ lalu pak Yusuf membuka lembar demi lembar buku tersebut dan ia sungguh terkejut dengan isi buku tersebut, terlihat dari raut wajahnya yang berubah setelah membuka lembar demi lembar buku itu.
“Ini.., ini punya siapa ? kalian dapat dari mana ? “ Tanya Pak Yusuf dengan serius
“itu punya Doni pak, kami menemukan buku itu dari tempat sampah pak “ jawab salah satu siswi itu
“Mungkin Doni membuang buku ini pak“ sambung siswi lainnya
“Kenapa Doni membuang buku ini ? sekarang dimana Doni ?” Tanyanya lagi
“Kami tidak tahu pak dan hari ini Doni tidak masuk sekolah“ jawab salah satu siswi
“Memang kenapa pak ? sebenarnya apa isi buku itu pak ?”
“Apa buku itu isinya tentang harta karun ?” sambung siswi lainnya
“Bukan,,, ini lebih berharga disbanding harta karun“ jawabnya
“Aku tak menyangka Doni bisa melakukan ini semua“ ucap Pak Yusuf dalam batinnya dan lalu meninggalkan siswi siswi itu.
Pak Yusuf membawa buku itu ke dalam kantor lalu menunjukkannya ke semua guru di dalam kantor itu.
“Apa ini pak ?” Tanya salah guru
“Itu buku Doni, anak yang selalu mendapatkan nilai terendah di semua pelajaran dan anak yang rencananya akan ditinggal kelaskan tahun ini”  jawab Pak Yusuf
“Ini… apa benar ini buatan Doni ? saya rasa ini bukan buatan dia,, mana mungkin anak seperti dia bisa buat ini..” sambung guru lainnya
“Kenapa tidak ? Itu sangat mungkin untuk terjadi didunia ini.. bapak dan ibu ibu di sini sudah pasti tahu dengan Thomas Alfha Edison, ilmuwan yang sangat terkenal”
“Yaa pasti semua orang kenal dengan Thomas Alfha Edison “jawab guru lainnya
“Tapi tidakkah kalian tahu dulu ia pernah dikeluarkan dari sekolah gara gara ia dianggap bodoh dan sekarang namanya selalu harum walau ia sudah tiada “
“Saya yakin Doni salah satu orang yang mengalaminya “
Pak Yusuf lalu mengambil buku itu dan pergi keluar..
“Kamu tahu rumah doni ada dimana ?” tanyanya pada salah satu murid
“Tahu pak“ jawabnya
“Ayo temani bapak ke rumah Doni“ ajaknya
Sesampai di rumah Doni, Pak Yusuf langsung bertemu dengan ibu Doni, lalu menjelaskan semua tentang Doni.
“Jadi sekarang Doni nya di mana buk ? ” Tanya Pak Yusuf
“Mungkin di kamarnya pak, ayo saya antarkan “ jawab ibu Doni
“Don, ini ada Pak Yusuf mau ketemu kamu “ panggilnya
“Don..” tak ada jawaban sedikit pun dari Doni
Lalu mama Doni membuka pintu kamar Doni, tapi mereka justru tak menemukan Doni. Begitu banyak sekali terlihat tulisan tulisan didinding kamar Doni dan kertas selebaran yang bertaburan di mana mana.
“Aku sekarang sudah tak bisa apa apa lagi, ku coba lakukan usaha tapi semua itu bohong karna aku hanya berdiam diri di sini. W = F. s  “ Pak Yusuf membaca salah satu lembaran kertas itu
“Mungkin itu benar, aku terlalu menutup diri ini hingga apa yang ku dapat hanyalah sebuah kebohongan seperti sekarang ini. F aksi = -F reaksi “ sambung mama doni yang juga membaca lembaran kertas lainnya.
“Apa maksud semua ini pak ? ada apa dengan Doni ? “ tanyanya dengan muka penuh kekhawatiran.
“Seperti yang ibu baca, Doni sekarang lagi butuh semangat dari orang orang sekitarnya, tapi dimana dia sekarang ?” Tanya Pak Yusuf
“Coba lihat ini, symbol apa ini pak ?” Tanya teman Doni sambil menunjukkan symbol symbol yang ia temukan di selembar kertas
‘‘Φ, δ, Ψ, Π, Ξ, Γ, Λ, itu semua symbol dari Alfabet Yunani“ jawabnya
“Tapi yang bapak bingung, apa makna susunan symbol ini”
“Dia memang beda“ pikirnya
“Itu Doni pak “ saut mama Doni
Mereka berlari keluar menuju Doni, ntah apa yang ia lakukan di luar sana, di bawah pohon itu.
“Doni….” panggil Pak Yusuf
“Pak Yusuf ? bapak dan deni kenapa ada di sini ? ” tanyanya dengan kebingungan
“Justru bapak yang mau Tanya, kamu kenapa disini ? “ kamu kenapa tidak sekolah ?” Tanya Pak Yusuf
“Semua usaha telah lenyap dan semua impian telah sirna, aku sadar aku bodoh tidak seperti yang lainnya “ jawabnnya seperti tak ada lagi harapannya
“Semuanya belum lenyap “ jawab Pak Yusuf . “Buktinya buku ini masih ada “ tunjuknya
“Itu… “
“Kami semua sudah tahu Don, kamu itu jenius bukan bodoh, kamilah yang bodoh yang tidak bisa mengerti tentang keadaan mu. Buku ini sebagai bukti keberadaanmu. Penjelasanmu mengenai gravitasi, relativitas, efek foto listrik dan semuanya itu membuktikannya. Mungkin di sekolah nilai nilai mu rendah, itu karna pemikiranmu sudah melebihi semua siswa dan bahkan bapak yang mengajar kamu. Kamu sudah dilevel teratas, kamu sudah dilevel creating yang tidak semua orang bisa di level itu, apalagi untuk seorang anak seperti kamu. Bapak minta maaf jika bapak tidak peka akan semua ini“ terang Pak Yusuf.
“Don, mama pernah bilang ke kamu, di dunia ini yang ingin selalu mama lihat tersenyum itu hanya satu yaitu kamu. Apakah kamu tega membiarkan mama mu ini buta ? mama lebih baik buta jika kamu seperti ini terus, percuma mama diberikan dua bola mata jika yang mama ingin lihat justru tak ingin tuk dilihat. “ kata kata mama doni seakan saat ini membuat suasana sunyi.
“Aku memang bodoh, tapi aku tak ingin dibilang gila “ sambung Doni, lalu ia memeluk mamanya.
Esoknya Doni kembali masuk sekolah, ada sedikit yang beda dengannya. Ya, semenjak semua orang tahu dia jenius, siswa siswi di sana lebih dekat dengannya. Mulai saat itu banyak yang berubah dari hidupnya. Pertama, ia mewakili sekolah untuk mengikuti Olimpiade Fisika dan ia menjuarai Olimpiade Fisika tersebut. Kedua, semua nilai lapornya direset ulang oleh pihak sekolahnya dan tentunya ia tak terancam tinggal kelas lagi. Ketiga, mungkin dari semua yang terjadi padanya inilah yang paling diharapkannya, yaitu dia tak pernah dibully lagi oleh anak-anak yang bermain bola dan semenjak saat itu ia tak pernah lagi takut dan menyembunyikan rahasianya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar