“RAHASIA DONI”
(Karya : Sariaman Siringo Ringo)
“Aduhhhhh,,,”keluh doni karena kepalanya
terkena bola. Hampir setiap kali ia melawati jalan itu ia terkena bola. “Doni,,
tolong lemparkan bolanya ke sini,” teriak salah satu anak yang sedang main
bola. Doni tidak langsung merespon teriakan anak itu, dia justru menatapi bola
itu hingga matanya seakan mau keluar. “Setiap hari bola ini selalu mengenaiku,
sebenarnya apa salahku pada bola ini,,” gerutu doni dalam hatinya.
Apa jangan-jangan aku punya gaya tarik
menarik yang kuat dengan bola ini ? dan jangan jangan aku ini …..
“ Ayo cepat tendang bolanya ke sini.”
“Ya bentar”. Tapi lagi-lagi doni diam
“kali ini aku harus bisa menendang bola ini
tepat ke mereka,,aku gak mau lagi dibully gara-gara kejadian seperti itu lagi”
pikir doni. Sekejap khayalan doni dimulai, dia mulai mengkhayal bagaimana dia
bisa menendang bola tepat ke pada mereka.
“Jika kacamata ini tidak salah, bisa diperkirakan jarak antara mereka ke saya sekitar 10 m, dan jika aku tidak salah massa bola ini sekitar 300 gram atau 0,3 kg, sambil mengambil bola. Jadi berapa gaya yang ku perlukan untuk menendang bola ini ?? Ya benar,, lalu khayalan doni selesai, kini ia siap untuk menendang bola ke mereka. Ia mulai dengan meletakkan bola itu 1 m di depan kakinya, lalu ia siap dengan mengambil kuda-kuda untuk menendang bola tersebut.
“baiklahhh,, aku akan menendangnya,,”teriak doni dengan keyakinan penuh.
“tumben sekali dia bersemangat” ujar salah satu anak yang bermain bola tadi.
syuutt… doni telah menendang bolanya. “Akhirnya aku berhasil melakukannya, lega rasanya “ ucap doni saat menutup matanya dengan rasa optimisnya. Syuuttt,, plak plak.. “aduhhhh sakitt “ keluh doni lagi.
“Jika kacamata ini tidak salah, bisa diperkirakan jarak antara mereka ke saya sekitar 10 m, dan jika aku tidak salah massa bola ini sekitar 300 gram atau 0,3 kg, sambil mengambil bola. Jadi berapa gaya yang ku perlukan untuk menendang bola ini ?? Ya benar,, lalu khayalan doni selesai, kini ia siap untuk menendang bola ke mereka. Ia mulai dengan meletakkan bola itu 1 m di depan kakinya, lalu ia siap dengan mengambil kuda-kuda untuk menendang bola tersebut.
“baiklahhh,, aku akan menendangnya,,”teriak doni dengan keyakinan penuh.
“tumben sekali dia bersemangat” ujar salah satu anak yang bermain bola tadi.
syuutt… doni telah menendang bolanya. “Akhirnya aku berhasil melakukannya, lega rasanya “ ucap doni saat menutup matanya dengan rasa optimisnya. Syuuttt,, plak plak.. “aduhhhh sakitt “ keluh doni lagi.
Ternyata anak-anak itu melempari sepatu
mereka ke arah Doni. Ternyata lagi dan
lagi tendangan doni meleset dari perkiraannya, bola yang ditendangnya justru
jauh meninggalkan mereka. Alhasil doni pulang ke rumah seperti biasanya yaitu
benjol di kepala. Doni memang dari dulu tidak bisa bermain sepak bola sehingga
setiap kali ia diajak bermain bola atau melihat orang bermain bola ia selalu
menghindar.
Besoknya di sekolah ia belajar fisika,
pelajaran yang paling ia sukai tapi walau dia suka dengan fisika tapi tetap
saja nilai fisikanya rendah, 60, 61, 62 dan yang paling tinggi 65. Tapi itu
sudah tinggi jika dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Doni memang rada aneh
jika dibandingkan dengan yang lainnya. Kadang-kadang ia melamun sendirian di
kelas saat teman-teman pergi ke kantin. Bahkan ia pernah tiba-tiba tertawa saat
belajar fisika dimana teman-teman sedang serius dan pusing dengan rumus-rumus.
Hari ini doni belajar fisika tentang gerak Momentum
dan Impuls. Dia sudah sibuk dengan buku tebalnya yang tak seorangpun tahu
apa isinya. Seperti biasa, lagi dan lagi dia bertingkah aneh saat pelajaran
fisika dimulai, saat semua kelihatan pusing dia justru senyum senyum memandangi
buku buku yang seram itu. Ntahlah ia seperti orang gila.
Saya pak… teriak doni sambil menunjuk pena
kecilnya ke atas, hingga membuat satu kelas terkejut, bukan hanya karna ia mau
maju tapi juga karna semangatnya yang aneh itu.
Baiklah, doni silahkan maju..
Dengan optimis dia maju menyelesaikan soal fisika
itu, tapi seperti biasa, jawabannya yang aneh membuat semua orang bingung,
sudah panjang, tulisannya tak menentu lagi.
“selesai,, sudah pak “ ujar doni dengan
semangatnya. Sebentar ruangan kelas itu seakan bisu sekejap. Oke silahkan duduk
doni.. menurut kalian apakah jawaban doni benar ? Tanya Pak Yusuf
SALAHHHH “saut serempak semua siswa-siswa
lain, seakan jawaban doni sudah pasti salah. Lagi dan lagi semangat doni tidak
di ikuti hasil yang baik.. Sebenarnya apa yang salah dengan dia ? Padahal soal
di depan ternyata jawabannya singkat dan jauh berbanding terbalik dengan
jawabannya yang panjang tak tahu apa yang ia maksud.. itulah doni. Akhirnya jam
sekolah telah habis dan semua siswa pulang, terlihat doni masih bergerutu
dengan buku buku tebalnya itu.
“Apa yang salah ? apa jawaban mereka benar ?
dari mana mereka bilang jawaban ku salah dan jawaban mereka benar ?” teriak
doni, seakan ia tak peduli siapa yang akan mendengarnya.
“ Kenapa aku begini, aku normal seperti
mereka, aku ingin bersama mereka, aku ingin satu jalan dengan mereka, jadi aku
gak harus pulang sendiri dan terus disiksa begini,aku mau seperti mereka“
lirihnya.
Doni cepat-cepat bangkit, ia memasukkan semua
bukunya, tapi anehnya buku itu tidak dimasukkannya ke dalam tasnya. Lalu ia
lari keluar kelas, menuju suatu tempat,, lalu sesampai di tempat itu,, ia
melempar buku tebalnya dan lalu ia pulang.
Sepulannya di jalan di tempat yang sama.
“Aduhhh,,” rintih Doni kesakitan karna
kepalanya terkena bola. “Kenapa,, kenapa aku selalu kena bola ini, apakah aku
punya gaya gravitasi yang besar sehingga bola ini harus jatuh tepat
dikepalaku “gerutunya
“Hahaha,,,” siswa siswa yang bermain bola
justru tertawa mendengar gerutuan doni. Lalu doni mulai berjlan lagi,tapi..
“Heyyy,, tolong lemparkan bolanya” teriak
salah seorang anak
“Aku lagi buru buru “ ujar doni
“Jangan banyak alasan, ayoo lempar bolanya”
“Andai saja aku seperti mereka, pasti aku
tidak seperti ini, berada dengan mereka“ pikir Doni. Lalu ia mengambil bola itu
dan lari mendekati mereka, anehnya ini kali pertama dia memberikan bola dengan
cara seperti ini, tidak seperti biasanya dia selalu menendang bola itu walau
tak ada satupun yang berhasil.
Sesampai di rumah doni hanya mengurung diri di
dalam kamarnya. Mamanya yang melihatnya seperti itu menjadi bingung.
“Don, kamu kenapa ? kamu gak makan dulu don
??“ Tanya mama Doni sambil mendekatkan telinga ke pintu kamar Doni, tapi yang
terdengar hanyalah detak jarum jam yang ada di dalam kamar doni.
Esoknya, doni tidak pergi ke sekolah
“Don, kamu sakit ya ? kamu kenapa gak sekolah
?“ Tanya ibu doni di balik pintu kamar doni
Nak ?? lalu sekejap suara ibu doni tak lagi
terdengar.
Di sekolah, siswa siswi lagi mengadakan
kebersihan sekiar sekolah, semua siswa siswi diberi tugas membersihkan dan
membuang sampah ke tempatnya.
Saat beberapa siswi sedang membuang sampah,
ada siswi yang menemukan sesuatu
“Apa ini ?“ kejut salah satu siswi
“Coba lihat sini,, ini kan buku yang selalu
dibawa doni, kenapa bisa di sini ?” ujar siswi lainnya
“Coba buka, isinya apa“ sambung siswi lainnya
“Jangan, inikan milik doni, mana tahu ini
bersifat pribadi bagi dia”
“Tapi kalau buku ini penting, kenapa dibuang
sama doni ? iya gak? Sudah biar aku aja yang buka” lalu mereka membuka buku
yang sering di bawa doni itu. Tiba tiba mereka terkejut dengan isi buku itu.
“Apa ini ?? “ Tanya salah satu siswi lainnya
“Ayo kita tunjukkan ke Pak Yusuf “ ajak siswi
lainnya
Mereka cepat cepat menemui pak Yusuf, guru
fisika mereka.
“Pak ..pakk “ panggil salah siswi dengan
terburu buru
“Ada apa nak ? “ Tanya Pak Yusuf
“Ini pak “ jawab siswi itu sambil memberikan
buku milik doni ke Pak Yusuf
“Buku apa ini ? “ lalu pak Yusuf membuka
lembar demi lembar buku tersebut dan ia sungguh terkejut dengan isi buku
tersebut, terlihat dari raut wajahnya yang berubah setelah membuka lembar demi
lembar buku itu.
“Ini.., ini punya siapa ? kalian dapat dari
mana ? “ Tanya Pak Yusuf dengan serius
“itu punya Doni pak, kami menemukan buku itu
dari tempat sampah pak “ jawab salah satu siswi itu
“Mungkin Doni membuang buku ini pak“ sambung
siswi lainnya
“Kenapa Doni membuang buku ini ? sekarang
dimana Doni ?” Tanyanya lagi
“Kami tidak tahu pak dan hari ini Doni tidak
masuk sekolah“ jawab salah satu siswi
“Memang kenapa pak ? sebenarnya apa isi buku
itu pak ?”
“Apa buku itu isinya tentang harta karun ?”
sambung siswi lainnya
“Bukan,,, ini lebih berharga disbanding harta
karun“ jawabnya
“Aku tak menyangka Doni bisa melakukan ini
semua“ ucap Pak Yusuf dalam batinnya dan lalu meninggalkan siswi siswi itu.
Pak Yusuf membawa buku itu ke dalam kantor
lalu menunjukkannya ke semua guru di dalam kantor itu.
“Apa ini pak ?” Tanya salah guru
“Itu buku Doni, anak yang selalu mendapatkan
nilai terendah di semua pelajaran dan anak yang rencananya akan ditinggal
kelaskan tahun ini” jawab Pak Yusuf
“Ini… apa benar ini buatan Doni ? saya rasa
ini bukan buatan dia,, mana mungkin anak seperti dia bisa buat ini..” sambung
guru lainnya
“Kenapa tidak ? Itu sangat mungkin untuk
terjadi didunia ini.. bapak dan ibu ibu di sini sudah pasti tahu dengan Thomas
Alfha Edison, ilmuwan yang sangat terkenal”
“Yaa pasti semua orang kenal dengan Thomas
Alfha Edison “jawab guru lainnya
“Tapi tidakkah kalian tahu dulu ia pernah
dikeluarkan dari sekolah gara gara ia dianggap bodoh dan sekarang namanya
selalu harum walau ia sudah tiada “
“Saya yakin Doni salah satu orang yang
mengalaminya “
Pak Yusuf lalu mengambil buku itu dan pergi
keluar..
“Kamu tahu rumah doni ada dimana ?” tanyanya
pada salah satu murid
“Tahu pak“ jawabnya
“Ayo temani bapak ke rumah Doni“ ajaknya
Sesampai di rumah Doni, Pak Yusuf langsung
bertemu dengan ibu Doni, lalu menjelaskan semua tentang Doni.
“Jadi sekarang Doni nya di mana buk ? ” Tanya
Pak Yusuf
“Mungkin di kamarnya pak, ayo saya antarkan “ jawab
ibu Doni
“Don, ini ada Pak Yusuf mau ketemu kamu “ panggilnya
“Don..” tak ada jawaban sedikit pun dari Doni
Lalu mama Doni membuka pintu kamar Doni, tapi
mereka justru tak menemukan Doni. Begitu banyak sekali terlihat tulisan tulisan
didinding kamar Doni dan kertas selebaran yang bertaburan di mana mana.
“Aku sekarang sudah tak bisa apa apa lagi, ku
coba lakukan usaha tapi semua itu bohong karna aku hanya berdiam diri di
sini. W = F. s “ Pak Yusuf
membaca salah satu lembaran kertas itu
“Mungkin itu benar, aku terlalu menutup diri
ini hingga apa yang ku dapat hanyalah sebuah kebohongan seperti sekarang ini. F
aksi = -F reaksi “ sambung mama doni yang juga membaca lembaran kertas
lainnya.
“Apa maksud semua ini pak ? ada apa dengan
Doni ? “ tanyanya dengan muka penuh kekhawatiran.
“Seperti yang ibu baca, Doni sekarang lagi
butuh semangat dari orang orang sekitarnya, tapi dimana dia sekarang ?” Tanya Pak
Yusuf
“Coba lihat ini, symbol apa ini pak ?” Tanya
teman Doni sambil menunjukkan symbol symbol yang ia temukan di selembar kertas
‘‘Φ, δ, Ψ, Π, Ξ, Γ, Λ, itu semua symbol
dari Alfabet Yunani“ jawabnya
“Tapi yang bapak bingung, apa makna susunan
symbol ini”
“Dia memang beda“ pikirnya
“Itu Doni pak “ saut mama Doni
Mereka berlari keluar menuju Doni, ntah apa
yang ia lakukan di luar sana, di bawah pohon itu.
“Doni….” panggil Pak Yusuf
“Pak Yusuf ? bapak dan deni kenapa ada di sini
? ” tanyanya dengan kebingungan
“Justru bapak yang mau Tanya, kamu kenapa
disini ? “ kamu kenapa tidak sekolah ?” Tanya Pak Yusuf
“Semua usaha telah lenyap dan semua impian
telah sirna, aku sadar aku bodoh tidak seperti yang lainnya “ jawabnnya seperti
tak ada lagi harapannya
“Semuanya belum lenyap “ jawab Pak Yusuf . “Buktinya
buku ini masih ada “ tunjuknya
“Itu… “
“Kami semua sudah tahu Don, kamu itu jenius
bukan bodoh, kamilah yang bodoh yang tidak bisa mengerti tentang keadaan mu.
Buku ini sebagai bukti keberadaanmu. Penjelasanmu mengenai gravitasi,
relativitas, efek foto listrik dan semuanya itu membuktikannya. Mungkin di
sekolah nilai nilai mu rendah, itu karna pemikiranmu sudah melebihi semua siswa
dan bahkan bapak yang mengajar kamu. Kamu sudah dilevel teratas, kamu sudah
dilevel creating yang tidak semua orang bisa di level itu, apalagi untuk
seorang anak seperti kamu. Bapak minta maaf jika bapak tidak peka akan semua
ini“ terang Pak Yusuf.
“Don, mama pernah bilang ke kamu, di dunia ini
yang ingin selalu mama lihat tersenyum itu hanya satu yaitu kamu. Apakah kamu
tega membiarkan mama mu ini buta ? mama lebih baik buta jika kamu seperti ini
terus, percuma mama diberikan dua bola mata jika yang mama ingin lihat justru
tak ingin tuk dilihat. “ kata kata mama doni seakan saat ini membuat suasana
sunyi.
“Aku memang bodoh, tapi aku tak ingin dibilang
gila “ sambung Doni, lalu ia memeluk mamanya.
Esoknya Doni kembali masuk sekolah, ada
sedikit yang beda dengannya. Ya, semenjak semua orang tahu dia jenius, siswa
siswi di sana lebih dekat dengannya. Mulai saat itu banyak yang berubah dari
hidupnya. Pertama, ia mewakili sekolah untuk mengikuti Olimpiade Fisika dan ia
menjuarai Olimpiade Fisika tersebut. Kedua, semua nilai lapornya direset ulang
oleh pihak sekolahnya dan tentunya ia tak terancam tinggal kelas lagi. Ketiga,
mungkin dari semua yang terjadi padanya inilah yang paling diharapkannya, yaitu
dia tak pernah dibully lagi oleh anak-anak yang bermain bola dan semenjak saat
itu ia tak pernah lagi takut dan menyembunyikan rahasianya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar